Sportbook, Casino, Togel, Poker, Domino Online, Bandar Q Sportbook, Casino, Togel, Poker, Domino Online, Bandar Q

Jumat, 29 April 2016

Cerita Dewasa Berdasarkan Kisah Nyata Nikmat nya Penis Bambang

Cerita Dewasa Berdasarkan Kisah Nyata Nikmat nya Penis Bambang

Cerita Dewasa Berdasarkan Kisah Nyata Nikmat nya Penis Bambang



Cerita Dewasa ini adalah Pengalaman Sex Cerita Dewasa Berdasarkan Kisah Nyata Nikmat nya Penis Bambang merupakan pengalaman sex yang sangat susah untuk di lupakan. Cerita sex kali ini berdasarkan pengalaman dari pengirim cerita yang tidak mau di sebutkan nama nya , untuk menghormati itu kami menggunakan nama palsu dalam Cerita 17+  kali ini.Untuk itu silahkan langsung di simak cerita nya : 

Sebagai pasangan suami istri muda yang baru setahun berumah tangga, kehidupan keluarga kami berjalan dengan tenang, apa adanya dan tanpa masalah.

Saya, sebut saja Ratih(23), seorang sarjana ekonomi. Usai tamat kuliah, saya bekerja pada salah satu perusahaan jasa keuangan di Solo. Sebagai wanita, terus terang, saya juga tidak bisa dikatakan tidak menarik. Kulit tubuh saya putih mulus, tinggi 163 cm dan berat 49 kg. Sementara ukuran bra 34B. Cukup bahenol, kata rekan pria di kantor. Sementara, suami saya juga ganteng. Iwan namanya. Umurnya tiga tahun diatas saya atau 26 tahun. Bergelar insinyur, ia berkerja pada perusahaan jasa konstruksi. Iwan orangnya pengertian dan sabar.

Karena sama-sama bekerja, otomatis pertemuan kami lebih banyak setelah sepulang atau sebelum berangkat kerja. Meski begitu, hari-hari kami lalui dengan baik-baik saja. Setiap akhir pekan–bila tidak ada kerja di luar kota–seringkali kami habiskan dengan makan malam di salah satu resto ternama di kota ini. Dan tidak jarang pula, kami menghabiskannya pada sebuah villa di Tawangmangu.

Soal hubungan kami, terutama yang berkaitan dengan ‘malam-malam di ranjang’ juga tidak ada masalah yang berarti. Memang tidak setiap malam. Paling tidak 2 kali sepekan, Iwan menunaikan tugasnya sebagai suami. Hanya saja, karena suami saya itu sering pulang tengah malam, tentu saja ia tampak capek bila sudah berada di rumah. Bila sudah begitu, saya juga tidak mau terlalu rewel. Juga soal ranjang itu.
Bila Iwan sudah berkata,
“Kita tidur ya,” maka saya pun menganggukkan kepala meski saat itu mata saya masih belum mengantuk.
Akibatnya, tergolek disamping tubuh suami–yang tidak terlalu kekar itu-dengan mata yang masih nyalang itu, saya sering-entah mengapa-menghayal. Menghayalkan banyak hal.
Tentang jabatan di kantor, tentang anak, tentang hari esok dan juga tentang ranjang.

Bila sudah sampai tentang ranjang itu, seringkali pula saya membayangkan saya bergumulan habis-habisan di tempat tidur. Seperti cerita Ani atau Indah di kantor, yang setiap pagi selalu punya cerita menarik tentang apa yang mereka perbuat dengan suami mereka pada malamnya. Tapi sesungguhnya itu hanyalah khayalan menjelang tidur yang menurut saya wajar-wajar saja. Dan saya juga tidak punya pikiran lebih dari itu. Dan mungkin pikiran seperti itu akan terus berjalan bila saja saya tidak bertemu dengan Bambang. Pria itu sehari-hari bekerja sebagai polisi dengan pangkat Briptu. Usianya mungkin sudah 50 tahun. Gemuk, perut buncit dan hitam.

Begini ceritanya saya bertemu dengan pria itu. Suatu malam sepulang makan malam di salah satu resto favorit kami, entah mengapa, mobil yang disopiri suami saya menabrak sebuah sepeda motor. Untung tidak terlalu parah betul. Pria yang membawa sepeda motor itu hanya mengalami lecet di siku tangannya. Namun, pria itu marah-marah. Cerita Sex 2016
“Anda tidak lihat jalan atau bagaimana. Masak menabrak motor saya. Mana surat-surat mobil Anda? Saya ini polisi!” bentak pria berkulit hitam itu pada suami saya.

Mungkin karena merasa bersalah atau takut dengan gertakan pria yang mengaku sebagai polisi itu, suami saya segera menyerahkan surat kendaraan dan SIM-nya. Kemudian dicapai kesepakatan, suami saya akan memperbaiki semua kerusakan motor itu esok harinya. Sementara motor itu dititipkan pada sebuah bengkel. Pria itu sepertinya masih marah. Ketika Iwan menawari untuk mengantar ke rumahnya, ia menolak.
“Tidak usah. Saya pakai becak saja,” katanya.

Esoknya, Iwan sengaja pulang kerja cepat. Setelah menjemput saya di kantor, kami pun pergi ke rumah pria gemuk itu. Rumah pria yang kemudian kami ketahui bernama Bambang itu, berada pada sebuah gang kecil yang tidak memungkinkan mobil Opel Blazer suami saya masuk. Terpaksalah kami berjalan dan menitipkan mobil di pinggir jalan.

Rumah kontrakan Pak Bambang hanyalah rumah papan. Kecil. Di ruang tamu, kursinya sudah banyak terkelupas, sementara kertas dan koran berserakan di lantai yang tidak pakai karpet.
“Ya beginilah rumah saya. Saya sendiri tinggal di sini. Jadi, tidak ada yang membersihkan,” kata Bambang yang hanya pakai singlet dan kain sarung.

Setelah berbasa basi dan minta maaf, Iwan mengatakan kalau sepedamotor Pak Bambang sudah diserahkan anak buahnya ke salah satu bengkel besar. Dan akan siap dalam dua atau tiga hari mendatang. Sepanjang Iwan bercerita, Pak Bambang tampak cuek saja. Ia menaikkan satu kaki ke atas kursi. Sesekali ia menyeruput secangkir kopi yang ada di atas meja.
“Oh begitu ya. Tidak masalah,” katanya.

Saya tahu, beberapa kali ia melirikkan matanya ke saya yang duduk di sebelah kiri. Tapi saya pura-pura tidak tahu. Memandang Pak Bambang, saya bergidik juga. Badannya besar meski ia juga tidak terlalu tinggi. Lengan tangannya tampak kokoh berisi. Sementara dadanya yang hitam membusung. Dari balik kaosnya yang sudah kusam itu tampak dadanya yang berbulu. Jari tangannya seperti besi yang bengkok-bengkok, kasar.

Bambang kemudian bercerita kalau ia sudah puluhan tahun bertugas dan tiga tahun lagi akan pensiun. Sudah hampir tujuh tahun bercerai dengan istrinya. Dua orang anaknya sudah berumah tangga, sedangkan yang bungsu sekolah di Bandung. Ia tidak bercerita mengapa pisah dengan istrinya.
Pertemuan kedua, di kantor polisi. Setelah beberapa hari sebelumnya saya habis ditodong saat berhenti di sebuah perempatan lampu merah, saya diminta datang ke kantor polisi. Saya kemudian diberi tahu anggota polisi kalau penodong saya itu sudah tertangkap, tetapi barang-barang berharga dan HP saya sudah tidak ada lagi. Sudah dijual si penodong.

Saat mau pulang, saya hampir bertabrakan dengan Pak Bambang di koridor kantor Polsek itu. Tiba-tiba saja ada orang di depan saya. Saya pun kaget dan berusaha mengelak. Karena buru-buru saya menginjak pinggiran jalan beton dan terpeleset. Pria yang kemudian saya ketahui Pak Bambang itu segera menyambar lengan saya. Akibatnya, tubuh saya yang hampir jatuh, menjadi terpuruk dalam pagutan Pak Bambang. Saya merasa berada dalam dekapan tubuh yang kuat dan besar. Dada saya terasa lengket dengan dadanya. Sesaat saya merasakan getaran itu. Tapi tak lama.
“Makanya, jalannya itu hati-hati. Bisa-bisa jatuh masuk got itu,” katanya seraya melepaskan saya dari pelukannya. Saya hanya bisa tersenyum masam sambil bilang terimakasih.

Ketika Pak Bambang kemudian menawari minum di kantin, saya pun tidak punya alasan untuk menolaknya. Sambil minum ia banyak bercerita. Tentang motornya yang sudah baik, tentang istri yang minta cerai, tentang dirinya yang disebut orang-orang suka menanggu istri orang. Saya hanya diam mendengarkan ceritanya.

Mungkin karena seringkali diam bila bertemu dan ia pun makin punya keberanian, Pak Bambang itu kemudian malah sering datang ke rumah. Datang hanya untuk bercerita. Atau menanyai soal rumah kami yang tidak punya penjaga. Atau tentang hal lain yang semua itu, saya rasakan, hanya sekesar untuk bisa bertemu dengan berdekatan dengan saya. Tapi semua itu setahu suami saya lho. Bahkan, tidak jarang pula Iwan terlibat permainan catur yang mengasyikkan dengan Pak Bambang bila ia datang pas ada Iwan di rumah.

Ketika suatu kali, suami saya ke Jakarta karena ada urusan pekerjaan, Pak Bambang malah menawarkan diri untuk menjaga rumah. Iwan, yang paling tidak selama sepakan di Jakarta, tentu saja gembira dengan tawaran itu. Dan saya pun merasa tidak punya alasan untuk menolak.

Meski sedikit kasar, tapi Pak Bambang itu suka sekali bercerita dan juga nanya-nanya. Dan karena kemudian sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri, saya pun tidak pula sungkan untuk berceritanya dengannya. Apalagi, keluarga saya tidak ada yang berada di Solo. Sekali waktu, saya keceplosan. Saya ceritakan soal desakan ibu mertua agar saya segera punya anak. Dan ini mendapat perhatian besar Pak Bambang. Ia antusias sekali. Matanya tampak berkilau.
“Oh ya. Ah, kalau yang itu mungkin saya bisa bantu,” katanya.
Ia makin mendekat.
“Bagaimana caranya?” tanya saya bingung.
“Mudah-mudahan saya bisa bantu. Datanglah ke rumah. Saya beri obat dan sedikit diurut,” kata Pak Bambang pula.

Dengan pikiran lurus, setelah sebelumnya saya memberitahu Iwan, saya pun pergi ke rumah Pak Bambang. Sore hari saya datang. Saat saya datang, ia juga masih pakai kain sarung dan singlet. Saya lihat matanya berkilat. Pak Bambang kemudian mengatakan bahwa pengobatan yang didapatkannya melalui kakeknya, dilakukan dengan pemijatan di bagian perut. Paling tidak tujuh kali pemijatan, katanya. Setelah itu baru diberi obat. Saya hanya diam.
“Sekarang saja kita mulai pengobatannya,” ujarnya seraya membawa saya masuk kamarnya. Kamarnya kecil dan pengap. Jendela kecil di samping ranjang tidak terbuka.
Sementara ranjang kayu hanya beralaskan kasur yang sudah menipis.

Pak Bambang kemudian memberikan kain sarung. Ia menyuruh saya untuk membuka kulot biru tua yang saya pakai. Risih juga membuka pakaian di depan pria tua itu.
“Gantilah,” katanya ketika melihat saya masih bengong.
Inilah pertama kali saya ganti pakaian di dekat pria yang bukan suami saya. Di atas ranjang kayu itu saya disuruh berbaring.
“Maaf ya,” katanya ketika tangannya mulai menekan perut saya.

Terasa sekali jari-jari tangan yang kasar dan keras itu di perut saya. Ia menyibak bagian bawah baju. Jari tangannya menari-nari di seputar perut saya. Sesekali jari tangannya menyentuh pinggir lipatan paha saya. Saya melihat gerakannya dengan nafas tertahan. Saya berasa bersalah dengan Iwan.
“Ini dilepas saja,” katanya sambil menarik CD saya. Uupsss! Saya kaget.
“Ya, mengganggu kalau tidak dilepas,” katanya pula.

Tanpa menunggu persetujuan saya, Par Bambang menggeser bagian atasnya. Saya merasakan bulu-bulu memek saya tersentuh tangannya. CD saya pun merosot. Meski ingin menolak, tapi suara saya tidak keluar. Tangan saya pun terasa berat untuk menahan tangannya.

Tanpa bicara, Pak Bambang kembali melanjutkan pijatannya. Jari tangan yang kasar kembali bergerilya di bagian perut. Kedua paha saya yang masih rapat dipisahkannya. Tangannya kemudian memijati pinggiran daerah sensitif saya. Tangan itu bolak balik di sana. Sesekali tangan kasar itu menyentuh daerah klitoris saya. Saya rasa ada getaran yang menghentak-hentak. Dari mulut saya yang tertutup, terdengar hembusan nafas yang berat, Pak Bambang makin bersemangat.
“Ada yang tidak beres di bagian peranakan kamu,” katanya.

Satu tangannya berada di perut, sementara yang lainnya mengusap gundukan yang ditumbuhi sedikit bulu. Tangannya berputar-putar di selangkang saya itu. Saya merasakan ada kenikmatan di sana. Saya merasakan bibir memek saya pun sudah basah. Kepala saya miring ke kiri dan ke kanan menahan gejolak yang tidak tertahankan.

Tangan kanan Pak Bambang makin berani. Jari-jari mulai memasuki pinggir liang memek saya. Ia mengocok-ngocok. Kaki saya menerjang menahan gairah yang melanda. Tangan saya yang mencoba menahan tangannya malah dibawanya untuk meremas payudara saya. Meski tidak membuka BH, namun remasan tangannya mampu membuat panyudara saya mengeras. Uh, saya tidak tahu kalau kain sarung yang saya pakai sudah merosot hingga ujung kaki. CD juga sudah tanggal. Yang saya tahu hanyalah lidah Pak Bambang sudah menjilati selangkang saya yang sudah membanjir. Terdengar suara kecipak becek yang diselingi nafas memburu Pak Bambang.

Ini permainan yang baru yang pertama kali saya rasaran. Iwan, suami saya, bahkan tidak pernah menyentuh daerah pribadiku dengan mulutnya. Tapi, jilatan Pak Bambang benar-benar membuat dada saya turun naik. Kaki saya yang menerjang kemudian digumulnya dengan kuat, lalu dibawanya ke atas. Sementara kepalanya masih terbenam di selangkangan saya.

Benar-benar sensasi yang sangat mengasyikan. Dan saya pun tidak sadar kalau kemudian, tubuh saya mengeras, mengejang, lalu ada yang panas mengalir di memek saya. Aduh, saya orgasme! Tubuh saya melemas, tulang-tulang ini terasa terlepas. Saya lihat Pak Bambang menjilati rembesan yang mengalir dari memek. Lalu ditelannya. Bibirnya belepotan air kenikmatan itu. Singletnya pun basah oleh keringat. Saya memejamkan mata, sambil meredakan nafas. Sungguh, permainan yang belum pernah saya alami. Pak Bambang naik ke atas ranjang.
“Kita lanjutkan,” katanya.

Saya disuruhnya telungkup. Tangannya kembali merabai punggung saya. Mulai dari pundah. Lalu terus ke bagian pinggang. Dan ketika tangan itu berada di atas pantat saya, Pak Bambang mulai melenguh. Jari tangannya turun naik di antara anus dan memek. Berjalan dengan lambat. Ketika pas di lubang anus, jarinya berhenti dengan sedikit menekan. Wow, sangat mengasyikan. Tulang-tulang terasa mengejang. Terus terang, saya menikmatinya dengan mata terpejam.

Bila kemudian, terasa benda bulat hangat yang menusuk-nusuk di antara lipatan pantat, saya hanya bisa melenguh. Itu yang saya tunggu-tunggu. Saya rasakan benda itu sangat keras. Benar. Saat saya berbalik, saya lihat penis Pak Bambang itu. Besar dan hitam. Tampak jelas urat-uratnya. Bulunya pun menghitam lebat.

Mulut saya sampai ternganga ketika ujung penis Pak Bambang mulai menyentuh bibir memek saya. Perlahan ujungnya masuk. Terasa sempit di memek saya. Pak Bambang pun menekan dengan perlahan. Ia mengoyangnya. Bibir memek saya seperti ikut bergoyang keluar masuk mengikuti goyangan penis Pak Bambang. Hampir sepuluh menit Pak Bambang asik dengan goyangannya. Saya pun meladeni dengan goyangan. Tubuh kami yang sudah sama-sama telanjang, basah dengan keringat. Kuat juga stamina Pak Bambang. Belum tampak tanda-tanda itunya akan ‘menembak’.
Padahal, saya sudah kembali merasakan ujung memek saya memanas. Tubuh saya mengejang. 

Dengan sedikit sentakan, maka muncratlah. Berkali-kali. Orgasme yang kedua ini benar-benar terasa memabukkan. Liang memek saya makin membanjir. Tubuh saya kehilangan tenaga. Saya terkapar.
Saya hanya bisa diam saja ketika Pak Bambang masih menggoyang. Beberapa saat kemudian, baru itu sampai pada puncaknya. Ia menghentak dengan kuat. Kakinya menegang. Dengan makin menekan, ia pun memuntahkan seluruh spermanya di dalam memek saya. Saya tidak kuasa menolaknya. Tubuh besar hitam itu pun ambruk diatas tubuh saya. Luar biasa permainan polisi yang hampir pensiun itu. Apalagi dibandingkan dengan permainan Iwan.

Sejak saat itu, saya pun ketagihan dengan permainan Pak Bambang. Kami masih sering melakukannya. Kalau tidak di rumahnya, kami juga nginap di Tawangmangu. Meski, kemudian Pak Bambang juga sering minta duit, saya tidak merasa membeli kepuasan syahwat kepadanya. Semua itu saya lakukan, tanpa setahu Iwan. Dan saya yakin Iwan juga tidak tahu samasekali. Saya merasa berdosa padanya. Tapi, entah mengapa, saya juga butuh belaian keras Pak Bambang itu. Entah sampai kapan.

Bagaimana Dengan Cerita Nya? Menarik Bukan Karena Di Sini Kita Bisa Ikut Merasakan Rasa Nya Melalui Cerita Dewasa Nya Ini.Oleh Karena Ini Jangan Lupa Untuk Di Simak Cerita Hot Lainnya Di Bawah Ini :

Kamis, 28 April 2016

Kisah Nyata Cerita Dewasa Guruku Hamil

Kisah Nyata Cerita Dewasa Guruku Hamil

Kisah Nyata Cerita Dewasa Guruku Hamil


Cerita Dewasa ini adalah Pengalaman Sex Kisah Nyata Cerita Dewasa Guruku Hamil merupakan pengalaman sex yang sangat susah untuk di lupakan. Cerita sex kali ini berdasarkan pengalaman dari pengirim cerita yang tidak mau di sebutkan nama nya , untuk menghormati itu kami menggunakan nama palsu dalam Cerita 17+  kali ini.Untuk itu silahkan langsung di simak cerita nya : 

Kejadian ini terjadi saat gue masih duduk di kelas 3 SMA. gue Edo, sekolah di salah satu SMA favorit dikota S. setiap hari rabu dan jum’at gue ada kegiatan les privat di rumah guru fisika gue. guru gue ini adalah primadona bagi kaum laki-laki disekolah, umurnya 25 tahun, cantik, seksi, dan sudah bersuami, namanyaSiska. di hari rabu adalah hari libur dan bu Siska memutuskan untuk mengubah jam les yang semula sore ke jam pagi, gue berangkat jam 8 dan 1 jam kemudian sampai dirumahnya gue dan langsung ketuk pintu rumahnya dan beberapa saat pintu terbuka.

Yang membuka pintu adalah bu Siska, betapa kagetnya gue, bu Siska cantik dan sexy banget pagi ini. dia memakai daster tipis.rumahnya tampak sepi, mungkin karena suaminya lagi kerja, karena yang gue tau suami bu Siska bekerja diperusahaan swasta, jadi tidak libur.sampai didalam kami langsung memulai pelajaran. sepanjang pelajaran gue hanya terpaku pada buSiska yang cantik banget hari ini, gue perhatikan tubuhnya dari bawah sampai atas. yang menarikk perhatiangue selama pelajaran adalah buahdadanya yang lumayan besar, karena kerah daster bagian atasnya yang agak longgar, jadi keliatan buahdadanya ketika sedang menjelaskan sambil menunduk. Cerita Sex 2016
 
Kalau gue taksir kira-kira berukuran 36B. tak sadar ternyata guru gue menyadari apa yang gue lakukan, gue memperhatikan buahdadanya.
“hayoooo… lagi lihatin apa?” ucap bu Siska.
“a..a…anu bu” hanya itu yng guejawab dengan gugup.
“lihatin ini ya?” sambil megang kedua buahdadanya.
dengan malu gue jawab
“iya bu, ibu Siska seksi banget hari ini”.

Tiba-tiba bu Siska berkata
“kamu mau lihat punya ibu ini?”. dengan cepat gue jawab
“iya bu, mau banget”. langsung dia buka dasternya dan dia sudah telanjang dan hanya memakai CD.
gue hanya terpaku dengan apa yang gue lihat bu Siska seksi banget.
“hey… kok bengong, sini?” tanya bu Siska.
langsung gue menghampirinyadan duduk disebelahnya. bu Siska memegang tangan gue dan meletakkan di buahdadanya.
“remas-remas ya, hari ini kamu yang ngasih pelajaran buat ibu” ucap bu Siska.
“oke bu, hari ini ibu akan puas banget” jawab gue.

Gue langsung remas-remas buahdadanya, gue jilati putingnya. buSiska hanya mendesah kenikmatan
“ah… uhh… teruskan”. gue cumbu bibir merahnya, bu Siska membalas dengan sangat bersemangat.
sambil gue masukin tangan gue ke dalam CD-nya, gue masukkan jari tengah gue kedalam vaginanya, terasa basah sekali vaginanya. gue cabut CD-nya dan langsung gue jilati vaginanya yang merah merekah. gue jilati klitorisnya. 5 menit gue jilativaginanya tapi dia masih belum orgasme juga. tampaknya bu Siska kuat banget. terus gue jilati vaginanya sampai dia meminta untuk cepat dimasukkan.

“aaah…. ma…sukkaaan seekarang”. mendengar hal itu gue langsung copot baju gue semua sampai telanjang bulat, sekarang kami berdua sama-sama telanjang.

Bu Siska tampaknya kaget ketika melihatukuran kontol gue yang besar. ukuran kotol gue kora-kira panjang 19cm dan berdiameter 4cm.Gue langsung mengambil posisi didepan vaginanya, gue masukin kontol gue dengan perlahan ke vaginanya sa,pai masuk kepala kontol gue saja, tiba-tiba langsung gue masukin semua.
“aahhh…” erangan bu Siska sangat keras.
untung rumahnya agak jauh dari rumah tentangga sekitar. gue diaminkontol gue di situ sebentar. sementara itu gue cumbu bibir seksinya itu
“ibu siap?” tanya gue.
“iya, puasin ibu hari ini ya” jawab dia.

Langsung gue genjot vaginanya smbil gue remas-remas buahdada besarnya. bu Siska hanya merem melek sambil menggigit bibir bawahnya. tampaknya dia sangat menikmatinya. gue genjot dengan tempo cepat. gue genjot vagina bu Siska dengan posisi itu selama 10 menit.
“Do.. ibu mau nyampek nih” ucap bu Siska.
langsung gue percepat genjotan gue dan
“seerrrrrr..” bu Siska orgasme yang pertama, sangat hangat divaginanya. gue beri dia waktu untuk istirahat sejenak.
“gimana bu? mau lanjut?” tanya gue.
“iya.. ibu belum puas” jawab dia.
10 menit istirahat setelah itu kami lajutkan percintaan ini.
“sekarang ibu gantian yang diatas ya” pinta gue.
“ok, sekarang ibu yang akan beraksi” jawab dia.

Gue langsung telentang dilantai dan bu Siska mulai naik diatas tubuh gue. dia pegang kontol gue dan langsung memasukkanya kedalam vaginanya itu. bu Siska langsung beraksi, dia naik turunkan pantatnya. sekarang dia terlihat sangat seksi, gue pegang buahdadanya dan gue remas-remas buahdadanya itu, terkadang bu Siska mecumbu bibir gue. kali ini durasi permainan kami agak lama, yaitu 20 menit kami diposisi itu tiba-tiba bu Siska orgasme yang kedua. padahal gue masih belum orgasme sma sekali langsung minta dia buat bungging.
“sekarang ibu nungging ya” ucap gue.
“luar biasa, guruku ini sangat sexy” ucap gue dalam hati ketika melihat tubuhnya dari belakang.
dari belakang, jelas terlihat vaginanya yang merah merekah dan bekas cairan cintanya sendiri. 

Gue langsung masukin kontol gue dari belakang dan langsung gue genjot vaginanya sambil meremas-remas buahdadanya dari belakang. gue genjot dia dengan cepat.
“yeehhh.. cepat sayang.. lebih cepat lagi…” gue genjot guruku yang sexy ini dengan semangat 45.
40 menit kami bermain diposisi tersebut, sementara bu Siska sudah orgasme sebanyak 3 kali selama 45 menit itu. tiba-tiba ada yang mendesak keluar dari kontol gue.
“Do.. ibu mau keluar lagi..”ucap bu Siska.
“tunggu bu…. Edo juga mau keluar, kita barengan” jawab gue… gue genjot lebih cepat lagi dan
“seeerrrrrr” kami orgasme bersamaan… gue semburin semua sperma gue kedalam vaginanya. sete;ah keluar semua, gue cabut kontol gue. gue lihat ada sperma yang mengalir dari vaginanya karena banyaknya sperma yang gue semburin.

Tak terasa kami bercinta selama 2 jam. kami istirahat. kami berbincang-bincang, ternyata menurut bu Siska, suaminya tidak bisa memuaskannya seperti saat bermain bersama gue. gue senang sekali mendengarnya.
“saya bisa memuaskan ibu kapan aja asal ibu mau” ucap gue..
“benar…? waah… terima kasih ya?” jawab bu Siska sambil memeluk guesetelah istirahat selam 1 jam kami bermain lagi.

Kali ini kami bermain dikamar bu Siska sendiri. kami bermain selama 3 jam dan selama itu bu Siska sudah orgasme sebanyak5 kali dan gue sebanyak 3 kali. kami sangat menikmati permainan itu. terasa lelah kami berdua tertidu dikamar itu. jam 3 sore saya pamit pulang karena 1 jam lagi suaminya akan pulang.sejak saat itu kami sering bercinta lagi, entah itu dirumahnya saat tidak ada suaminya, disekolah saat semua siswa dan guru pulang, atau kami menyewa hotel untuk sekedar bercinta. terkadang bu Siska yang meminta duluan. dan terkadang gue juga yang minta duluan.
tiba-tiba 2 bulan kemudian bu Siska memberitahu gue kalau dia sedang hamil anak gue. gue kaget bagaimana kalau ketahuan orang lain kalau itu anak gue.

“tenang saja, ibu bilang pada suami ibu kalau ini anaknya, karena setelah bercinta denganmu, malam harinya ibu juga bercinta dengan suami ibu untuk menghilankan kcurigaan” jawab bu Siska..
tampaknya bu Siska tahu kalaudia akan hamil, makanya dia bercintadengan suaminya setelah dengan gue. gue mulai tenang sekarang.Selama 4 bulan sejak dia hamil, kamitidak lagi bercinta karena taku mengganggu jabang bayinya. barulah ketika menginjak bulan kelima kami melakukannya lagi, hal ini juga berguna untuk membantu kelancaran persalinannya nanti.

Pada kehamilannya kami lebih sering bercinta karena gue sangat menyukai bercinta dengan wanita hamil, gue sering minta jatah ke bu Siska. terkadang bu Siska yang meminta, dia bilang untuk ngidamnya.Setelah kelahiran anaknya kami masih sering melakukannya. selama 2 tahun kami melakukannya sampai dia pindah keluar kota. geu senang sekali selama 2 tahun ada wanita yang rela untuk menjadi pelampiasan nafsu gue.

Bagaimana Dengan Cerita Nya? Menarik Bukan Karena Di Sini Kita Bisa Ikut Merasakan Rasa Nya Melalui Cerita Dewasa Nya Ini.Oleh Karena Ini Jangan Lupa Untuk Di Simak Cerita Hot Lainnya Di Bawah Ini :

Rabu, 27 April 2016

Cerita Dewasa Berdasarkan Kisah Nyata Mari Mulai Sex Ini

Cerita Dewasa Berdasarkan Kisah Nyata Mari Mulai Sex Ini

Cerita Dewasa Berdasarkan Kisah Nyata Mari Mulai Sex Ini


Cerita Dewasa ini adalah Pengalaman Sex Cerita Dewasa Berdasarkan Kisah Nyata Mari Mulai Sex Ini merupakan pengalaman sex yang sangat susah untuk di lupakan. Cerita sex kali ini berdasarkan pengalaman dari pengirim cerita yang tidak mau di sebutkan nama nya , untuk menghormati itu kami menggunakan nama palsu dalam Cerita 17+  kali ini.Untuk itu silahkan langsung di simak cerita nya : 

Well, darimana dulu ya, aku mulai ceritanya. Hmmm, baiklah, mungkin dari perkenalan dulu, namaku Vera, just a simple name, right? Nothing special ‘bout me. Aku hanya seorang cewek kuliahan yang pemalu, terlalu pemalu malah. Semester ini terlalu sepi bagiku,
“Hufftttt…” aku menghela napas berat sambil menuju tempatku biasa bersemedi, yup! Dimana lagi kalau bukan di perpustakaan.
 Semua cewek berkacamata sepertiku memang hidup di perpustakaan dan bukan kehidupan malam yang glamour.

Aku berjalan sambil membawa setumpuk buku tebal tentang diktat kedokteran. Aku sudah membuka pintu perpustakaan perlahan hingga kudengar sebuah suara yang tertahan. Suara antara kesakitan dan… keenakan? Aku berjalan menuju asal suara. Di ujung pojok perpustakaan memang tempat yang gelap, aku tidak akan berani kesana karena aku penakut. Aku melihat kanan-kiri, tidak ada dosen ataupun penjaga perpustakaan saat ini. Aku melirik jam tangan, Oh, pantas, sekarang’kan waktunya istirahat. Cerita Sex 2016

Aku berdiri dibalik lemari tinggi yang penuh buku, aku berusaha mengintip dari balik celah lemari. 2 sosok bayangan sedang melakukan sesuatu dan suara-suara itu semakin liar.
Aku membersihkan kacamataku, berusaha melihat lebih jelas lagi. Dan aku terkesiap saat melihat seorang cewek menghisap benda panjang dan besar milik seorang cowok. Aku berusaha menutup mulutku agar tidak mengeluarkan suara sedikitpun, aku tidak mau sampai ketahuan.

Cewek itu kukenal dengan kak Leny, sedangkan yang cowok adalah kak Ryan. Sial, cowok itu’kan pacarnya temanku, ternyata cowok itu selingkuh, harus kurekam dan kujadikan bukti. Aku merogoh ponselku dan mulai ku rekam semua adegan mesum itu.
“Aaahhh… Hsssssss… Enak Len.. kamu hebat sayang..” Kak Ryan mulai berbicara tidak karuan, sedangkan kak Leny asyik menjilat ujung penis kak Ryan.
“Hmmpppphh… penis kamu enak, sayang.. hmppphhhh… “ mulut kak Leny penuh dengan penis cowok itu, aku yang membayangkan saja seperti ingin muntah.
Apa sih enaknya benda besar dan panjang itu?
Kak Ryan memaju-mundurkan penis besar miliknya di mulut kak Leny, sesekali kak Leny tersedak oleh benda panjang itu sedangkan tangan kak Ryan menggerayangi tubuh Kak Leny yang terbalut kaos warna ungu.

Disingkapnya kaos ungu kak Leny sehingga bra yang menutupi dada ranum itu terlihat jelas. Aku meneguk liur dengan susah payah.
“Nakal ya… kamu mau minum susu sayang?” Tanya kak Leny dengan wajah mesumnya, dan dijawab dengan anggukan kepala kak Ryan,
“Iya.. aku mau nete..”
Kak Leny terkikik geli, lalu menyingkap bra putihnya, dan puting yang keras itu mengacung menantang ke wajah kak Ryan. Dengan kelaparan, kak Ryan menyantap puting itu tanpa permisi. Menghisapnya, menggigitnya, menjilat-jilatnya, bahkan sesekali ditarik karena saking gemasnya.

“Ahhhkk.. jangan ditarik sayang.. uuhhhh.. sakiit… hhhssss… oohhh..” kak Leny menikmati sentuhan kasar kak Ryan yang meremas-remas dadanya.
“Aku suka… hmmphh… enak… nenen… mmhmmpphh..” kak Ryan makin tambah meracau tidak jelas, dan tangannya mulai melepas celana jins kak Leny.
“Jangan dilepas sayang, nanti ada yang lihat.”
“Biarin, Aku gak peduli.” Kak Ryan langsung menarik paksa celana jins dan celana dalam kak Leny, lalu membuka lebar paha cewek cantik itu.
“Vagina yang cantik… hmmphh…” kak Ryan langsung menjilat vagina kak Leny, membuat suara berdecak basah dari vagina itu.

“Ahhhh… enak…. Nghhhh… god.. oohhhh…” kak Leny bergerak dengan sensual. Aku harus menahan gemetar dan wajah merahku ketika merekam semua adegan itu.
Kak Ryan menepuk-nepukkan penisnya ke lubang kak Leny, seperti memberi salam terlebih dahulu.
“Leny sayang, bilang ‘halo sama Mr. P…” kata kak Ryan sambil tetap menepuk vagina kak Leny dengan penis besarnya.
Kak Leny terkikik geli,
“Halo Mr…. Ahhhkkk!!” belum selesai memberi sapa, kak Ryan langsung menyodok vagina kak Leny dengan penis besar miliknya. Menggenjotnya tanpa ampun.

“Aaahhkkk…. Ryan.. Aahhkkk.. stop!! Sakit… AAhhhkk!!” kak Leny berusaha mendorong tangan dan badan kak Ryan, tetapi sepertinya percuma, kak Ryan menyodok vagina kak Leny seperti orang kesurupan, cowok itu mendengus keenakan.
“Hsss…Ahh.. enak banget vagina kamu sayang.. oohh.. vagina.. uuhhh….aku ngentotin kamu…” kak Ryan terus menyodok vagina kak Leny dengan cepat, membuat suara-suara decakan basah dari vagina itu, dan cairan bening melumer di sekitar selangkangan kak Leny.
“Ahhhh…. Jangan keras-keras sayang… nanti kita ketahuan…aahhkk!”
“Aku gak peduli… ohhh.. vagina!! Oohhh.. ngentotin kamu enak… ngentot sama pelacur kayak kamu enak banget…” 

Penis kak Ryan terus menyodok vagina kak Leny, sedangkan tangannya sibuk menggesek-gesek daging kecil di vagina itu.
“Aahhkkk!! Stop Ryan!! Aaahkkk…”
“Enggak… Hssss!! Aku sodok kamu lagi… oohhh.. kusodok lagi.. sodok.. uuhhh..” kak Ryan memutar tubuh kak Leny, membuat gaya mereka menjadi doggy style. Kak Ryan menyodok dari belakang.
“Ahhh.. Ryan… oohh… terus sayang.. enak banget…” kak Leny bergerak sensual dengan memaju-mundurkan pantatnya.

Tangan kak Ryan meremas-remas dan menarik puting kak Leny.
“Hsss.. oohhhh!! Kamu memang pelacur, Len… ohhhh.. pelacur… perek.. Hsss..!! enak penisku Len… ohhhh enak dijepit ma vagina mu…. Ohhh… !!” kak Ryan merasakan penisnya berdenyut hebat.
“Ahhh… Ryan.. keluarin penis kamu… aahkkk!! Keluarin Ryan…Hsss…” kak Leny berusaha melepaskan diri dari kak Ryan, tetapi sepertinya cowok itu terus menggenjot pantat kak Leny sambil mendekapnya dari belakang. Puting kak Leny di tarik dan diplintir-plintir lagi.
“Ahhhh.. enggak!! Gak akan aku keluarin.. aahhhh.. biarin kamu hamil… oohhh.. pelacur.. oohhh…!!”

Uuuhh.. lepasin… hsss…aahh…” kak Leny terus merasakan denyutan penis kak Ryan di vaginanya yang becek.
“Aahhhh.. aku keluar Len… aku mau nge-crot, Len.. oohh… aku pipisin kamu… aahhhkk.. aku pipisin vagina pelacurmu itu… ohhh.. ohh….Aaaahhhhkkkkk.!!!!”
“AAhhkkkkk Ryan!!” kak Leny berteriak nikmat dengan tubuh mengejang.
Crottt..Crotttt… -kak Leny merasakan sodokkan keras penis kak Ryan beberapa kali di dalam vaginanya.
“Haaaahhhhh… haaahh….” kak Ryan masih membenamkan sebentar penisnya, lalu melepaskannya dengan cepat dan cairan putih keluar menetes dari vagina kak Leny yang basah.

Aku menatap semua adegan yang bisa dilihat di blue film itu secara live. Entah harus bilang beruntung atau sial, yang pasti saat itu tanganku gemetar merekam semua adegan tanpa iklan itu.
Aku melihat kak Ryan sudah memakai kembali celananya dan kak Leny masih mengatur napas di lantai. Kak Ryan berbisik sebentar lalu tersenyum ke arah kak Leny dan kemudian pergi keluar dari perpustakaan.

Aku masih diam di tempat, tidak berani membuat suara sedikitpun. Aku melihat kak Leny berusaha duduk di meja lalu mengeluarkan rokok yang terselip di kantong celananya. Membakar ujung rokok dengan api lalu menghisapnya dalam-dalam.
“Aku tahu kamu disitu. Keluar sekarang.” Seruan kak Leny yang tenang membuatku kaget. Jantungku berdegup kencang karena aku ketahuan mengintip. Sial, kataku dalam hati.
Kak Leny melirik lemari tempatku bersembunyi, “Cepat keluar sekarang.”

Dengan gugup dan tangan gemetar aku keluar secara perlahan dari tempat persembunyianku. Aku bisa melihat kak Leny menyeringai ke arahku.
“Well.. well.. ternyata ada anak kucing manis yang tersesat.” Kak Leny bergerak ke arahku, aku melirik takut namun masih dapat kulihat tubuhnya yang telanjang bulat.
Aku mundur perlahan sambil mendekap buku diktatku. Kak Leny menarik ponsel yang kupegang dengan paksa.
“Ya ampun.. ada penguntit rupanya. Mesti dihukum nih.” Kata kak Leny tenang, sedangkan jantungku sudah kalang kabut menantikan hukuman apa yang akan dilakukan kakak seniorku itu.

Tanganku ditarik paksa, membuat semua buku yang kupegang berdebam jatuh ke lantai.
“M..maaf kak… lepasin aku…aku janji gak akan bilang ma siapa-siapa.” Suara yang keluar dari mulutku lebih terdengar seperti cicitan tikus yang ketakutan.
Kak Leny menyeringai sinis, “Gak ada maaf dan ampun.” Katanya dingin. Dan sekali lagi aku mengigil ketakutan.

Aku menunduk menatap lantai, kemudian tangan kak Leny meraih kacamata di wajahku dan meletakkannya di atas meja. Kak Leny bersiul takjub, “Gak kusangka kamu manis juga. Aku pikir semua kutu buku itu jelek, ternyata ada juga yang manis banget kayak kamu.” Kak Leny tersenyum menyeringai lagi.

Sekarang tangan kak Leny menelusuri kemeja putihku yang transparan, “Ja..jangan kak..” Aku berusaha berontak dengan halus tetapi tatapan kak Leny membuatku ketakutan.
“Denger ya… kalo loe teriak, ponsel loe bakal gue hancurin.” Kak Leny mulai kesal dan aku tidak berani membantah lagi.
Melihat sikapku yang diam ketakutan, kak Leny dengan tersenyum mengelus pipi mulusku, “Nah, kalo jadi anak baik begini, aku ‘kan gak bakal kasar sama kamu, manis.” Katanya lagi sambil mengecup keningku.

Aku memejamkan mata erat-erat dan merasakan kecupan bibir kak Leny di bibirku. Dia menjilat bibirku hingga basah tetapi aku tetap tidak menunjukan sikap untuk membalas kecupannya, dan itu membuatnya kesal, “Buka mulut loe..!” seru kak Leny marah.
Dengan ketakutan aku membuka mulutku perlahan, sedikit celah mebuat lidah kak Leny merogoh mulutku dengan liar. Aku berusaha berontak, ”Hmmphh… kak…hhnnngg…lepas…” Aku memohon, tetapi cewek itu terus memainkan lidahnya dimulutku. Menyentuh rongga mulut dan lidahku dengan brutal.

Kak Leny mendorongku hingga pinggulku menyentuh meja di belakangku, dia melepaskan ciumannya dengan kecupan panjang, membuat jaring saliva di sekitar bibir kami. Kak Leny menyeringai lagi sambil mengelus rambut hitam panjangku.
“Kucing manis… manisnya..” Katanya sambil membuka kancing kemejaku satu persatu.
Aku berontak lagi,
“Ja..jangan kak… lepasin bajuku..” Kataku ketakutan dan itu membuat kak Leny marah.

PLAK! Aku ditampar oleh kak Leny membuatku kaget dan pipiku langsung merah karena sakit.
Kak Leny menjambak rambutku, “Gue bilang loe itu kucing… kucing gak ngomong.. dia mengeong.. ayo mengeong!” Serunya kasar, aku terisak ketakutan.
“Ayo mengeong!!” teriaknya tidak sabar.
“Me..meeong…” Aku memaksakan suaraku, dan itu membuat kak Leny tersenyum puas lalu mengelus pipiku yang merah karena ditampar.
“Nah…gitu’kan manis.. harus jadi anak baik…sekarang lepas baju kamu.” Katanya pelan tetapi penuh dengan nada mengancam. Dengan ketakutan aku membuka kemeja putihku, menampakan bra hitam yang membalut dada besarku.
“Dada yang besar… aku suka..” katanya sambil menjilat bibir bawahnya. Aku ketakutan.

Tangan kak Leny meraih bra hitamku dan mengangkatnya ke atas, membuat dadaku keluar sepenuhnya. Putingku mengacung keras, sedangkan dadaku bergoyang ketika kak Leny menyentuhnya.
“Mulus… empuk… kenyal..” Kata kak Leny sambil menggoyang-goyang dadaku yang besar.
Dadaku bergoyang ke atas-ke bawah, ke kiri dan kanan, lalu tiba-tiba putingku ditarik hingga membuatku kaget.
“Ahhhhkk…” Tanpa sadar aku mengeluarkan suara sensual dari bibirku, kak Leny tersenyum menyeringai sedangkan aku cepat-cepat menutup mulutku dengan tangan.

Kak Leny menyingkap rok panjangku, menampakkan paha mulus dan vaginaku yang terbalut celana dalam putih. Dia menyuruhku duduk di atas meja, kuturuti tanpa komentar sedikitpun.
Kak Leny membuka pahaku, membuatku harus mengangkang ke arahnya, aku menahan rasa malu ku dengan memejamkan mata erat-erat. Dia membuka vaginaku, melihat dengan takjub lipatan berwarna merah muda dan lubang kecilku. Dia menyentuh daging kecilku, menarik-nariknya dengan penasaran lalu menggeseknya dengan cepat.
“Hnnn…nnnggghhh…” Aku menahan desahanku.
Kak Leny lagi-lagi tersenyum sambil terus memainkan daging kecil di vaginaku dan tangannya meremas-remas buah dadaku yang besar.
“Ayo mengeong…” Kata kak Leny sambil terus menarik-narik putingku, sesekali ditamparnya dadaku karena gemas sedangkan vaginaku di pijit-pijitnya dengan lembut.
“Me..meoong… aaahhh.. hhnn… meoong…” Aku keenakan menikmati sentuhan jarinya di vaginaku.

Kak Leny menyentuh vaginaku dengan lima jarinya seperti ingin membasuh tangannya dengan lendir dan cairan beningku.
Kak Leny menatap sekeliling ruangan, seperti mencari sesuatu, lalu matanya jatuh pada spidol hitam kecil di bawah meja. aku merasakan firasat buruk.
“Ja..jangan kak… ahhhhkk!” Belum selesai aku bicara, benda hitam kecil itu sudah dimasukkan ke vaginaku.
“Manisnya… aahh… hhmmphh..” Kak Leny menciumiku, benda kecil hitam itu di obok-obok ke vaginaku, membuatku menggelinjang keenakan. hingga..

Plok.. Plok.. Plok –suara tepukan tangan seseorang membuatku kaget, di balik rak buku itu, kak Ryan menatap kami dengan menyeringai. Ti..tidak mungkin, kataku dalam hati.
Kak Ryan memegangi handycam di tangannya sambil menyorotku, penis di balik celananya sudah mengeras. “Ya ampun, Leny… loe dapet kucing cantik, ya? Bagi-bagi lah..” kata kak Ryan sambil menarik puting dadaku, dan meremas payudaraku dengan semangat.
“Astaga, nenen yang gede… vagina yang perawan..” kak Ryan menjilat bibirnya seperti kelaparan. Aku makin ketakutan.

Kak Ryan meletakkan handycamnya di salah satu rak dengan lensa yang yang menyoroti ke arah kami. Dia ingin merekam semua adegan ini, aku menggigil ketakutan.
Kak Ryan lalu cepat-cepat melucuti celananya, dan penisnya sudah berdiri mengacung dengan keras. Aku ketakutan, aku berusaha kabur, tetapi dengan sigap kak Ryan menangkap pinggulku dan membantingku dengan pelan ke lantai.
“Tidak!! Gak mau!… jangan kak.. jangan!!” kak Ryan menindihiku sedangkan kak Leny memegangi tanganku biar tidak berontak.
“Anak cantik.. kucing manis…” Bisik kak Leny di telingaku, mulutku di tutup oleh tangan kak Leny agar aku tidak bersuara.

Aku menatap horror penis kak Ryan yang di tepuk-tepukannya di dadaku.
“Ohhh.. nenen nya gede… oohhh.. enaakk.. Hsss…” kak Ryan menjepit penisnya di belahan dadaku, aku merasakan kedua putingku saling bergesekan dengan kulit penis kak Ryan. Aku menangis ketakutan.
“Hmmphhh… nngghhh… mhhhpphh…” Aku berusaha teriak, tetapi mulutku terus ditutup.
Kak Ryan mengerjap-ngerjap keenakan.“Ohhh… nenen… ohh… enak banget.. anjing enak banget…ohh..” Kak Ryan terus menggenjot dadaku kemudian menghentikannya ketika dirasa penisnya berdenyut.

Kak Ryan tersenyum, sambil mengelus-elus penisnya pelan, kemudian mulutku di buka secara paksa, sebelum bisa teriak, mulutku di sodok dengan penis kak Ryan.
“Ohhhkkk… hhooookkk… hhpppphh…” Aku tersedak dengan benda panjang besar itu, rasanya tidak enak, sangat tidakenak.
Air mataku terus mengalir karena ketakutan. Kak Leny tertawa seram sambil menghisap putingku, menghisapnya lagi, dan menggigitnya.
“Air susunya tidak keluar…” Kata kak Leny sambil menyeringai.

Kemudian menghisapnya lagi sekuat-kuatnya dan melepaskannya dengan suara decakan keras. Air liurnya menetes di ujung putingku. Dijilatnya lagi, kemudian karena gemas, dadaku di tampar. Rasanya sungguh sakit, dadaku ditampar berkali-kali, bergoyang ke kiri dan kekanan, sedangkan mulutku terus disodok oleh penis yang besar.
“Hhook… oohhhkkk… ngghhh…” Tenggorokan ku rasanya seperti dimasukan rudal besar, kak Ryan menyodok-nyodok tanpa henti, sampai aku bisa merasakan dua buah biji penisnya menyentuh bibir bawahku.
“OOhh.. enaak banget.. aahhhkk… penisku dihisap… oohhh…” kak Ryan selalu meracau tidak jelas. 

Hingga aku bisa merasakan denyutan penis kak Ryan.
“Ohhh.. gue mau nge-crot… oohhh… penisku mau nge-crot… aahhkk.. makan nih penis… Ahhhhkkk!!”
Croot…croot..crooot –kak Ryan mengejang hebat sambil membenamkan dalam-dalam penisnya di mulutku, aku ingin muntah ketika cairan putih itu menyebur ke seluruh mulutku hingga menetes keluar dari bibirku. Mataku berair menahan gejolak mualku.
K
ak Ryan melepaskan penisnya dengan cepat, dan aku harus tergolek lemas di lantai, kak Leny tersenyum lalu menjilat mulutku yang penuh dengan sperma kak Ryan.
“Hmmphh.. enak…hmmphh.. sperma kamu enak Ryan..” kata kak Leny menjilat seluruh rongga mulutku.

Kak Ryan mulai memijat-mijat vaginaku. “Ahhh.. vagina yang cantik…” Kata kak Ryan sambil menjilat daging kecil vaginaku dan menggigitnya dengan gemas. Aku terkesiap.
“Ahhkk.. jangan.. ahhkkk..!!” Aku merasa takut dan enak disaat bersamaan.
Melihat aku mulai berontak, kak Leny memegangi erat tanganku lagi.
Kak Ryan mengelus-elus penisnya yang sudah tegang kembali, kemudian menepuk-nepuk vaginaku dengan penisnya. Aku ketakutan setengah mati. Tanpa sadar aku menendang perut kak Ryan dan berlari kabur.
“Sialan! Kejar Len!” kak Ryan meraung marah. Dengan sigap kak Leny berlari mengejarku. Ketika aku hampir menggapai kenop pintu, lagi-lagi aku tertangkap kak Ryan.
“Tidaakk! Lepaskan aku!!” Aku berontak, aku menendang dan memukul apa saja. Kak Ryan menyeretku ke pojok ruangan dan membantingku ke dinding.

Aku menangis meraung. kak Leny menamparku wajahku. “Dasar anjing!” katanya geram.
Kak Ryan menyeringai, dan menjambak rambutku, “Denger ya, loe gak bakal selamat karena udah bikin gue kesal.” Dengan marah, kak Ryan membalikkan badanku ke dinding dan menyodok lubang vaginaku dari belakang.
“AAhhhhKKK!! Sakiitt!! Ahhhkkk!!” aku berusaha berontak lagi, tapi kak Ryan menahan tanganku ke dinding dan memasukkan kepala penisnya ke lubang vaginaku dengan perlahan. Darah langsung keluar dari vaginaku.

Kak Ryan mula-mula memasukkan dan mengeluarkan penisnya dengan pelan. Masukan lagi dan tarik lagi. Penis kak Ryan menyodok vaginaku yang basah oleh lender dan darah.
“Ahhhkk sakit kak!” aku menahan rasa sakit di bagian bawah tubuhku, rasanya seperti disobek dengan paksa. Sedangkan kak Ryan mulai menggenjot vaginaku dengan paksa.
“Aahh.. enak… rasain nih penis.. aahh.. sial… sempit banget… oohhhh…Hss.. aahh.. vagina perawan enak.. ohhh.. vagina… oohh… dasar vagina anjing.. oohhh…” kak Ryan ngentotin vaginaku dengan cepat, sedangkan kak Leny duduk di meja sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
“Jangan kak! Jangan ngentotin aku kak!! Sakit.. ahhkk.. .. ahhkk!” Aku berteriak, kakiku tidak sanggup berdiri. Kak Ryan langsung membalikkan badanku, kini kami saling berhadapan, kakiku kananku diangkatnya dan ditaruh ke bahunya yang lebar.

Kemudian, kak Ryan mulai menggenjot lubang vaginaku lagi. Darah menetes ke lantai dan di pahaku, tetapi tidak dipedulikan kak Ryan. Cowok itu asyik menghisap puting dan menyodok vaginaku.
“Ohhh.. enak banget nenen… oohh… penisku dijepit vagina… Hsss… Hss..enak banget… aku sodok.. aku perkosa kamu…ohhhh..” Kak Ryan mendengus keenakan. Penisnya dibenamkan dalam-dalam ke vaginaku hingga aku bisa merasakan penisnya mendorong hingga mentok di dalam vaginaku.

Sodokan kak Ryan makin lama makin cepat, dia mulai berteriak tidak karuan, “Ahhhkk,,, vagina… oohhkk vagina..!!”
“Ngghh… aahhhkk.. sakit kak! Uhhhkk..” Aku menahan tangis. Vaginaku rasanya sakit sekali, sedangkan dadaku di remas-remas tanpa ampun oleh kak Ryan.
“Aku mau nge-crot.. aahkk.. sedikit lagi.. ohhhkk… penisku mau nge-crot.. aahhkk… enak banget ngentotin vagina anjing kayak kamu.. ohhh..” kak Ryan memejamkan mata keenakan, merasakan penisnya yang diremas-remas vaginaku.
“Ohhh.. gue hamilin lo, njing! Oohhkk.. gue hamilin loe! Ahhhkkkk!!”
Crot..croot..croot.. Kak Ryan bergetar ketika menyemprotkan spermanya di vaginaku dan aku bisa merasakan cairan hangat yang melumer di dalam perutku.

Aku terjatuh ke lantai, cairan putih keluar perlahan dari lubang vaginaku. Kak Leny tersenyum menyeringai sedangkan kak Ryan mengelus-elus rambut hitamku,
“Anak manis..” katanya sambil terengah-engah dan kemudian mengecup pipiku dengan lembut.
Aku tidak dapat mengingat apa-apa, tiba-tiba semua menjadi gelap. Apa aku pingsan? Entahlah, aku tidak peduli, yang penting aku tidak mau mengingat apa yang terjadi. Mungkin lain kali, aku tidak akan berani mengintip orang yang berbuat mesum. Aku kapok, sungguh!

Bagaimana Dengan Cerita Nya? Menarik Bukan Karena Di Sini Kita Bisa Ikut Merasakan Rasa Nya Melalui Cerita Dewasa Nya Ini.Oleh Karena Ini Jangan Lupa Untuk Di Simak Cerita Hot Lainnya Di Bawah Ini :

Senin, 25 April 2016

Kisah Nyata Cerita Dewasa Kupu2 Yang Kesepian

Kisah Nyata Cerita Dewasa Kupu2 Yang Kesepian

Kisah Nyata Cerita Dewasa Kupu2 Yang Kesepian


Cerita Dewasa ini adalah Pengalaman Sex Kisah Nyata Cerita Dewasa Kupu2 Yang Kesepian merupakan pengalaman sex yang sangat susah untuk di lupakan. Cerita sex kali ini berdasarkan pengalaman dari pengirim cerita yang tidak mau di sebutkan nama nya , untuk menghormati itu kami menggunakan nama palsu dalam Cerita 17+  kali ini.Untuk itu silahkan langsung di simak cerita nya : 

Suara erangan dan jerit kenikmatan bersahutan dalam kamar suite di hotel bintang empat tersebut. Di atas ranjang yang besar terlihat seorang wanita muda, berkulit putih rambut sebahu sedang mengerang nikmat ketika laki-laki muda yang ada di atasnya menghentakkan pinggulnya sembari menciumi leher wanita itu.
“Ahhh, keeluuaaarrh Prim, akuuu dapeeeettss!” Wanita itu mengejang menggapai orgasme.
“Ampunnnnn, aduuhhhh, lagiihhh, lagiihhh!”
Terjangan orgasme membuat wanita itu kewalahan dan pasrah ketika laki-laki yang bernama Prima itu membalik tubuhnya dan langsung menyetubuhinya lagi dengan gaya Doggie Style.
“Ahhhh, ahhhh, mentok ahhhh, ampuunnhnnnn, gillllllaaaaahhkk!” Wanita itu mengejang lagi untuk kesekian kalinya.

Udara sejuk dalam kamar itu tidak mampu menahan keringat keluar dari tubuh kedua orang itu. Wajah laki-laki itu tampak mengejang berusaha menahan desakan dalam kontolnya yang begitu kuat. Ia berusaha memperlambat tempo supaya bisa lebih lama menikmati tubuh wanita yang sekali lagi mengerang nikmat mendapatkan orgasme entah untuk yang keberapa kalinya.
“Aduh Prim, udahan plis, lemes banget inih, kluarin beb..” Wanita itu merengek sambil mengerang ketika orgasme kembali menerjang dari bawah tubuhnya.
“Bentar lagi Cin, masih blom puas nih say.” Prima membalik tubuh wanita yang bernama Cintia lalu memasukan lagi kontolnya.
Cintia hanya mengerang pasrah merasakan batang kontol Prima yang begitu keras merasuki memeknya.
“Hahhh, hahhhh, mo kluar Cin, aaaahhh!” Prima menghentak-hentak makin keras sambil menahan pinggul Cintia.
“Yahhk, yahhk, bareng Prim, aduh gilaaahhhkkkk!”

Prima dan Cintia mengerang keras, tubuh Cintia mengejang dan bergetar ketika merasakan semburan sperma Prima ke dalam dirinya. Dengan nafas memburu keduanya tergeletak lemas di atas ranjang. Prima dan Cintia menatap satu sama lain sambil tersenyum bahagia. Di lantai kamar itu berserakan gaun pengantin serta tuxedo yang mereka kenakan tadi siang pada waktu resepsi pernikahan mereka. Prima mencium bibir Cintia, yang sekarang sudah resmi menjadi istrinya. Sudah begitu lama ia menunggu untuk bisa bercinta dengan Cintia, yang sangat menjaga kehormatan dirinya. Cintia yang kehabisan tenaga, merasakan kebahagiaan karena bisa membuat suaminya begitu puas dalam bercinta, karena selama ini Cintia kadang merasa grogi menjelang malam pertama mereka ini. Cerita Sex 2016

Sejak kecil ia selalu diajarkan dasar agama yang kuat sehingga ketika Prima mengajaknya bercinta selama mereka berpacaran, ia selalu menolak halus. Ada rasa kuatir dalam diri Cintia, kalo ia tidak bisa memuaskan Prima pada saat malam pertama mereka, tetapi semua itu sirna sudah, dan Cintia juga kewalahan ketika mengetahui dirinya yang mudah mendapatkan orgasme pada saat berhubungan intim. Cintia merasakan lidah Prima dalam mulutnya, sementara tangan Prima sudah mulai lagi merabai memeknya yang basah.
“Huuumppphh Priiimmm, break duluuu..” Cintia menggelinjang ketika kontol Prima sudah kembali berada di depan liang memeknya. “Ooohhhkk, addduhh, keras bangeeet..”

Protes Cintia tidak digubris Prima, yang masih blom puas menyalurkan nafsunya yang sudah tertahan selama ini. Ia menindih Cintia dan memasukan kontol perlahan. Cintia hanya bisa pasrah menerima kontol suaminya itu, ia mengerang ketika kenikmatan mulai datang lagi dari bawah tubuhnya.
Bulan demi bulan setelah pernikahan mereka kehidupan Prima dan Cintia hampir sempurna. Mereka sangat menikmati hidup baru mereka, karena sudah menjadi keputusan mereka untuk menunda dalam memiliki anak agar bisa mengejar karir di dunia kerja mereka masing-masing.

Mei 2014

Prima mendapat kenaikan jabatan menjadi Direktur Keuangan di perusahaan tempat dia bekerja, 
menggantikan direktur yang lama, yang mengundurkan diri. Walaupun ia mendengar gosip tidak mengenakan soal pengunduran diri direktur yang lama itu, tapi rasa bahagia Cintia dan dirinya mengalihkan perhatiannya.

Agustus 2014

Prima dan Cintia menempati rumah baru mereka. Dengan menggunakan tabungan mereka sebagai uang muka, mereka membeli rumah dan membayar sisanya melalui kredit. Dengan gaji Prima sebagai direktur keuangan dan penghasilan Cintia sebagai sekretaris di perusahaan pembiayaan, mereka sangat mampu membayar cicilan rumah tersebut. Nonton Bokep

November 2014

Seorang staff bagian keuangan tertangkap tangan menggelapkan uang perusahaan. Tiga orang staff yang terlibat. Direktur utama perusahaan itu, Pramono, memerintahkan untuk melakukan audit penuh pada divisi keuangan pimpinan Prima itu.

Desember 2014

Hasil audit menunjukan Prima, secara tidak langsung terlibat dalam penggelapan dana ratusan juta tersebut. Prima menyangkal keras keterlibatannya, tetapi tanda tangan pada dokumen yang sebenarnya belum pernah dilihat sama sekali oleh Prima membuat ia tidak memiliki kekuatan untuk menyangkal lebih lama. Tim audit menelusuri lebih jauh kasus penggelapan itu, dan menimpakan semua kesalahan direktur keuangan yang lama pada Prima sebagai pejabat baru.

 Kerugian perusahaan mencapai hampir satu milyar. Pramono yang harus menjaga nama baik perusahaannya, memberikan pilihan pada Prima, untuk mengganti seluruh kerugian atau membawa kasus ini ke ranah hukum. Dunia Prima dan Cintia langsung jungkir balik. Rumah dan mobil mereka terpaksa dijual untuk mengganti kerugian perusahaan. Sekarang mereka tinggal di rumah kontrakan kecil di pinggir kota. Tetapi itu juga masih belum mencukupi untuk mengganti kerugian.

4 Januari 2015

Polisi menangkap Prima atas tuduhan penggelapan. Pramono memberikan waktu kepada Prima dan Cintia untuk menyelesaikan kekurangan kerugian perusahaan selama satu bulan. Jika dalam satu bulan tidak dapat diselesaikan, maka proses perkaranya akan diteruskan.

20 Januri 2015

Cintia termenung di meja kerjanya. Tugas-tugas hariannya banyak yang terbengkalai. Matanya sembab hasil menangis semalaman. Lingkaran hitam di matanya tampak jelas karena ia tidak cukup tidur memikirkan Prima yang ditahan di kantor polisi. Mei, teman sekantor Cintia, masuk ke dalam ruangan Cintia.
“Kamu kenapa Cin? Buat apa kamu minta nomer kontak ini?” Muka Mei penuh pertanyaan. “Orang ini bukan orang baik-baik loh. Bahaya. Boss aja angkat tangan kalo udah urusan sama dia.”
“Aku gak bis cerita Mei.” Tangan Cintia membalik-balik kertas putih bertuliskan nomor telepon. “Aku tau dia bukan orang baik-baik. Tenang aja Mei.”
“Hati-hati Cin!” Mei tampak cemas, sudah hampir sebulan ini sahabatnya Cintia ini tampak terbebani sesuatu. Ada gosip-gosip yang beredar, tapi Mei lebih memilih menunggu Cintia bercerita sendiri kepadanya.
“Hati-hati Cin!” Mei kembali berkata sebelum keluar ruangan Cintia. Sedangkan Cintia hanya termangu menatap kertas tadi.
Tanpa ekspresi kemudian Cintia meraih ponselnya kemudian menghubungi nomor tadi.

1 Februari 2015

920, Cintia menatap nomor kamr hotel itu. Masih ada kesempatan untuk balik Cintia melihat lagi SMS yang diterimanya tadi. Jam 6 sore. Masih ada waktu untuk membatalkan semuanya. Cintia menarik nafas panjang. Tangannya menekan bel yang ada di samping pintu tadi. Semoga tidak ada orang. Semoga salah. Semoga salah. Seorang gadis muda, mengenakan seragam SMA, membuka pintu itu. Raut mukanya tampak kelelahan, tapi ia masih bisa tersenyum hangat pada Cintia sebelum mempersilakan ia masuk. Gadis itu mengenakan jaket serta menyandang tasnya sebelum keluar kamar dan menutup pintu.

Mata Cintia dan gadis itu sempat bertemu sebelum pintu menutup. Dan Cintia melihat rasa kuatir pada tatapan gadis itu. Dalam kamar suite itu Cintia perlahan melangkah masuk menuju ruangan utama. Duduk di atas sebuah sofa besar, terlihat seorang laki-laki sedang membaca beberapa lembar kertas. Tubuhnya terlihat besar tanpa lemak berlebih. Cintia hanyak bisa menebak laki-laki itu berumur sekitar 40an dengan melihat raut mukanya. Laki-laki itu mengangkat mukanya ketika Cintia sampai di tengah ruangan. Ia menatap jam yang ada di dinding.
“On time ya. Gua suka orang on time.” katanya sambil mengamati Cintia.
“Malem Ko Han. Maaf mengganggu.” Cintia menjawab dengan tenggorokan kering.

Cintia hanya mengenal laki-laki itu dipanggil Ko Han oleh boss-nya. Ko Han sering dihubungi jika ada nasabah dari kantor Cintia yang kabur atau bermasalah. Dari Mei, Cintia mendengar jumlah anak buah Ko Han yang puluhan serta koneksinya yang seperti tidak terbatas dimana-mana membuat Ko Han bukan orang yang bisa diperlakukan secara main-main.
“Jadi? Gimana? Lo jadi?” tanya Ko Han sambil menatap Cintia.
“Iya Ko, jumlahnya segitu Ko apa bisa ya Ko?” jawab Cintia cemas.
“Jumlah segitu banyak banget. Gua juga barusan kenal lo kemaren. Boss lo gak tau ya kalo lo cari gua? Gua juga tanya ke bos suami lo, si Pramono kemaren dulu.”

Cintia agak kaget mendengar Ko Han bisa mencari informasi tentang Prima dan Pramono yang belum pernah ia ceritakan sebelumnya kepada siapapun.
“I..iya Ko. Saya usahakan kembali secepatnya.”
“Lo gak usah janji muluk-muluk lah. Lo liat aja kondisi lo sendiri. Laki lo dipenjara. Lo gaji paling berapa. Sampe kapan lo mau balikin?”
Tubuh Cintia lemas mendengar kaya-kata Ko Han. Jalan terakhir yang ia tempuh sepertinya akan berubah menjadi jalan buntu dalam sekejap.
“Tapi Ko…” Cintia terdiam melihat tatapan mata Ko Han.
“Tapi apa lagi? Lo punya jaminan apa?”

Cintia hanya bisa terdiam. Mukanya panas, ia berusaha keras menahan air mata yang mendesak keluar.
“Lo jaminin badan lo aja!”
“No! No! Pulang aja Cin… Pulang…” naluri Cintia menjerit untuk segera keluar dari tempat itu. Tapi tubuh Cintia tak bergerak.
“Gimana? Kalo deal, gua test drive lo sekarang. Kalo emang oke besok-besok gua kabarin soal permintaan lo.” Ko Han tersenyum melihat Cintia bimbang. “Gua masih banyak janji nih Cin, kalo lo mau buruan copotin tuh baju trus gua test drive.”
“Jangan! Pulang! Prima gak bakal mau kamu gini. Pulang!”
“Ini demi Prima. Demi Prima.”
“Jangan!”

Tas tangan yang dibawa Cintia jatuh ke lantai kamar. Dengan tangan gemetar Cintia membuka kancing bajunya satu per satu. Baju itu pun menyusul tas Cintia jatuh ke lantai. Tangan Cintia menarik turun rok yang ia kenakan. Melorotkan bra dan celana dalamnya. Air mata mengalir. Tatapan matanya kabur. Tubuhnya gemetar. Tangan Cintia menutupi dada dan memeknya.
“Pulang! Jangan!”
“Demi Prima! Demi Prima!”
“Gua gak punya banyak waktu, jadi lo kerjain aja yang musti lo kerjain. Gua mau liat hasilnya aja.” Ko Han melepaskan jubah tidur yang ia kenakan, membuat Cintia dapat melihat kontolnya yang setengah menegang. Hampir saja Cintia jatuh terjerembab karena berjalan limbung mendekati Ko Han yang duduk bersandar di sofa sambil menatap langit-langit menunggu layanan dari Cintia. 

Kontol Ko Han menegang ketika tangan Cintia menyentuhnya. Cintia memejamkan mata, membayangkan seluruh film porno yang pernah ia tonton bersama Prima. Ketika itu mereka tertawa konyol melihat adegan-adegan film biru itu sebelum akhirnya bercinta dengan liarnya. Ko Han mendengus merasakan mulut Cintia menghisap kontolnya. Sebentar saja Cintia menggunakan mulutnya kontol itu sudah menegang maksimal. Cintia menaiki tubuh Ko Han.
“Prima. I love you! I love you! Maafkan! I love you babe.”

Cintia mengerang merasakan memek dibuka oleh dorongan kontol Ko Han ketika ia menurunkan pinggulnya. Gesekannya terasa perih, tidak seperti ketika Prima memasuki tubuhnya. Tubuh Cintia gemetar ketika seluruh kontol Ko Han masuk ke dalam memeknya. Perlahan Cintia mulai bergerak naik turun berpegangan pada pundak Ko Han.
“Prima! Maafkan aku… Maaf sayang!”

Tubuh Cintia mulai bereaksi. Cairan cinta mulai melumasi memeknya. Rangsangan muncul menggantikan rasa perih. Cintia mengerang ketika merasakan buah dadanya diremas disusul oleh hisapan oleh mulut Ko Han.
“Ohhhkk, jangan, jangaaannhh, aahhhh, plisssshhh…” Cintia meronta ketika rangsangan terus datang dan berlipat ganda membuat tubuhnya total meledak dalam kenikmatan. “Ahhhh, jangaaaaannnnghhkkkk, aaaahahhhkkk!”
Tubuh Cintia menyerah kalah. Orgasme datang menghempaskan harga diri Cintia. Air mata kembali menetes ketika Cintia jatuh lemas di badan Ko Han.
“Ohhh udahhhkk kooo, udaahhhh…” Cintia merintih ketika tangan Ko Han memaksa pinggulnya kembali bergerak naik turun. “OOoh, kooo plisshhh stoppp ahhhhhhhhhhkk….”
Orgasme kedua datang. Yang ketiga menyusul. Pinggul Ko Han sekarang ikut bergerak. Membuat kontolnya masuk semakin dalam.
“AMpppunnn! Udah! Udah plis! Ampun Kooooohhhkkkkk…”
Keempat. Kelima.
“Hhhgggghhhk!”

Cairan hangat memenuhi memek Cintia. Pecah tangis Cintia. Ia meraung kalah merasakan sperma Ko Han mengalir keluar dari memeknya. Ia melepaskan diri dari Ko Han meringkuk di lantai. Menangis kalah.
“Luar biasa!” Ko Han tersenyum puas.
“Hoki banget laki lo bisa puya bini kayak lo ya.”
Cintia merangkak menjauh menggapai pakaiannya.
“Sekarang lo pulang aja. Tunggu kabar dari gua.” Ko Han bangkit meninggalkan Cintia masuk ke kamar mandi.
Seperti orang linglung Cintia berpakaian. Celana dalamnya lembab terkena cairan sperma Ko Han. Rambutnya kusut. Ia berjalan sambil melamun sepanjang lorong hotel itu.

3 Februari 2015

Cintia menggengam erat bukti setoran yang baru saja ia terima kembali dari teller bank tempat ia menyetorkan uang kerugian perusahaan milik Pramono sesuai dengan petunjuk dari Pramono ketika Cintia menghubunginya tadi pagi. Hari ini adalah hari terakhir batas waktu untuk mengembalikan semua kerugian dari kasus Prima. Di depannya sofa tempat Cintia duduk, Pramono sedang mengamati bukti transfer yang diberikan oleh Cintia. Waktu menunjukan pukul 7 malam di ruangan kerja Pramono, direktur utama sekaligus pemilik perushaan itu.
“Sayang sekali bagian keuangan gak sempet cek ya Bu, apakah udah masuk atau belum ke rekening kami.” Pramono mengembalikan bukti transfer itu.
“Tapi bener saya sudah setor kok Pak. Gak mungkin saya boongin Bapak.” Cintia menatap cemas.
“Saya sih percaya Bu Cintia gak boong. Tapi tadi bagian legal terlanjur memutuskan untuk meneruskan kasus Pak Prima ini untuk diproses. Jadi dari perusahaan kami sudah gak bisa menarik laporan pengaduannya Bu.”

Cintia tidak bisa percaya atas pendengarannya sendiri. Ia berkata panik, membela diri mengatakan kalo Pramono yang baru bersedia ditemuinya pada jam tujuh, padahal ia sudah menunggu sejak pagi tadi. Suara Cintia terdengar begitu panik hampir-hampir ia menjerit-jerit putus asa atas perkebangan yang terduga ini.
“Saya gak bisa bantu apa-apa Bu, karena perusahaan ini kan punya prosedur soal kasus ini. Maaf sekali Bu.” kata Pramono ketika Cintia terdiam kehabisan kata-kata menatapnya.
“Saya paling hanya bisa menghubungkan ibu dengan orang kepolisian dan kejaksaan yang memproses kasus ini. Mungkin masih bisa dipending atau digugurkan.”

Secercah harapan tumbuh di mata Cintia.
“Terima kasih Pak Pram, mohon info kontaknya saja Pak, supaya bisa saya hubungi secepatnya Pak. Terima kasih sebelumnya.”
“Nomor kontak dan nama ada di kartu ini Bu, silakan dikontak sendiri ya…” jawab Pramono. “Tapi gak salah sepertinya kalo saya minta tolong juga kepada Bu Cintia, sesuai dengan informasi dari Ko Han. Katanya kemaren Ibu ketemu Ko Han, dan saya disarankan Ko Han untuk bisa minta bantuan pada Ibu sepertia pa yang Ibu udah berikan pada Ko Han.”
Wajah Cintia berubah dari jijik, kemudian marah dan panik mendengar perkataan Pramono. Pramono hanya tersenyum melihat raut wajah Cintia.
“Bagaimana Ibu? Kebetulan saya ada janji makan malam sama keluarga. Ulang tahun istri saya. Kalo ibu keberatan membantu saya terpaksa belum bisa membantu ibu juga.”

Tubuh Cintia yang lunglai, sudah memberikan jawaban pada Pramono. Ia bangkit mengunci pintu ruangannya dan kemudian menarik turun semua tirai yang ada di ruangan itu. Suasana ruangan itu seketika menjadi muram bercampur kemesuman yang begitu terasa oleh Cintia. Pramono berdiri di hadapan Cintia. Cintia menegakkan tubuhnya, kemudian melepaskan ikat pinggang yang dikenakan Pramono. Celana panjang itu jatuh, disusul celana dalam Pramono.

Butuh waktu seminggu untuk bisa bertemu dengan ketiga orang yang duduk di depan Cintia. Dengan sisa uang gajiannya Cintia mengajak ketiganya bertemu di lobby sebuah hotel. Ketiganya mengenakan pakaian dinas karena saat itu masih pagi dan hari kerja. Mereka orang dari kejaksaan dan kepolisian yang mengurusi kasus Prima.
“Peraturannya memang kalo udah diproses harus diteruskan Bu, karena walaupun dicabut juga gak pengaruh ya..” Tasirin dari kejaksaan berusaha menjelas keadaan kasus Prima pada Cintia.

Mahmud rekannya serta Basiran dari kepolisian hanya mendengarkan serta menganggukan kepalanya.
“Trus gimana Pak? Saya udah bayar ganti ruginya penuh Pak. Hanya karena miss dengan jadwal Pak Pramono aja jadi kayak gini.” mohon Cintia pada Tasirin.
“Apakah gak bisa dibantuin Pak? Kalo ada biaya bisa dikondisikan kok Pak.”
“Bukan masalah biayanya Bu, tapi emang susah kalo diproses gitu. Musti kasus khusus banget kalo mau direvisi ini itu nya.” jawab Mahmud.
“Proses merubah jadi kasus khususnya itu yang berat sekali dan rumit Bu.”
“Kami kan juga punya atasan, jadi musti bisa dipertanggung jawabkan kalo ada revisi Bu.” timpal Basiran.
Cintia menatap ketiga orang itu.
“Bapak-bapak semua, sudah ketemu dengan Ko Han sebelum kesini?” tanya Cintia lirih.
Ketiga orang itu hanya tersenyum.
“Saya tau maksud Bapak.” Cintia berkata pahit. “Silakan Bapak tunggu sebentar. Saya buka kamar dulu. Nomor kamar serta kuncinya nanti saya tinggal di receptionist.”

Cintia bangkit meninggalkan ketiga orang tadi dan melangkah masuk lift menuju receptionist. Ketika ketiga orang itu masuk kamar Cintia, mereka melihat Cintia sudah mengenakan bathrobe putih. Ketiganya duduk tanpa melepaskan pandangan pada tubuh Cintia. Cintia menjatuhkan bathrobe itu ke lantai. Tarikan nafas terdengar jelas di kamar itu. Tubuh Cintia yang mulus menyita perhatian ketiga orang itu. Hampir serempak ketiganya bangkit, melepaskan pakaian dinas dengan beragam atributnya itu hingga terserak di lantai. Ketiganya mengitari Cintia.
Mata Cintia memancarkan rasa kuatir bercampur malu. Selanjutnya semua berlangsung cepat. 

Jamahan. Remasan. Ciuman. Jilatan. Datang silih berganti. Cintia merasakan jilatan di memeknya, tapi kemudian berubah menjadi gesekan sebuah jari. Buah dada kirinya di remas dari belakang. Puting kanannya merasakan lidah dan gigitan. Rasa lembab terasa pada memeknya. Gesekan jari itu mulai terasa nyaman. Dua buah tangan menekan pundaknya memaksa Cintia jatuh berlutut. Sebuah kontol mengacung di depan mulutnya. Mahmud mendesis nikmat ketika mulut hangat Cintia menyelimuti kepala dan batang kontolnya. Usapan lidah Cintia membuat kontolnya berdenyut.
“Terus Bu.. Ohhh, gila enak banget. Ditelen ya Bu! telen!” Tangan Mahmud meremas rambut Cintia.
Cintia membelalakan matanya. Ia menggeleng.
“Gahhhkkk, jahannnngg!” Cintia berusaha menarik kepalanya, tapi tangan Mahmud menahannya. Dua pasang tangan lain menahan tubuhnya yang meronta.
“OOOhhhh hhhggghhhkkk oooohhhhkkkkk.” Mahmud mengejang dan mendorong maju kepala Cintia.
“Huuurkkkkhhh, hhhuuuuekeekkkkk!”

Cintia meronta sekuat tenaga ketika semburan sperma memenuhi rongga mulutnya. Tubuh telanjangnya berlari menuju kamar mandi dan mengeluar isi mulut dan perutnya ke wastafel. Suara air terdengar mengalir di wastafel ketika Cintia jatuh terduduk lemas di lantai kamar mandi. Nafasnya memburu. Perutnya terasa mual.
Seseorang masuk ke kamar mandi mendekati Cintia.
“Yuk lanjut Bu…” kata Basiran berdiri dengan kontol tegang.

Tertatih Cintia berusaha bangun berlutut. Memasukan kontol itu ke dalam mulutnya. Hanya butuh beberapa menit sebelum semburan sperma memenuhi mulut Cintia lagi. Kali ini ia tidak sempat menumpahkan lagi isi perutnya ke dalam wastafel. Sperma Basiran berceceran di lantai keluar dari mulut Cintia. Isi perutnya yang kosong membuat mulut Cintia terasa pahit ketika ia muntah untuk kedua kalinya. Di belakang Basiran datang Tasirin. Cintia harus berpegangan pada kaki Tasirin untuk mengangkat tubuhnya. Ia begitu lemas sehingga Tasirin leluasa menggerakan kepalanya maju mundur dengan brutal. Pandangan Cintia berkunang-kunang. Semburan ketiga datang. Cintia jatuh kejang-kejang memuntahkan semuanya.

Ia menjerit sakit ketika perutnya berkontraksi berusaha mengeluarkan muntahnya tanpa hasil. Tasirin meninggalkan Cintia terkapar di lantai. Sayup-sayup Cintia mendengar ketiga orang itu tertawa sambil mengobrol. Bau asap rokok perlahan masuk ke kamar mandi itu. Cintia berusaha bangkit, masuk ke dalam bathtub. Ia menarik tirai bathtub, membuka keras air panas. Tubuhnya mengigil walaupun shower menyirami tubuhnya dengan air panas. Cintia duduk memeluk lututnya membiarkan air terus menerus menyiram tubuhnya. Sseorang menyibak tirai bathtub itu.
“Saya tunggu dari tadi kok gak keluar Bu.” tanya Basiran. “Ya udah disini aja gak apa deh. Kayak di film.”

Basiran melangkah masuk bathtub. Ia mengangkat tubuh Cintia dan menghadapkannya ke dinding membelakanginya. Basiran menaikan satu kaki Cintia ke bibir bathtub sebelum mendorong masuk kontolnya.
“Pelan pahhhhkkkkk, ssssshhhhh pelaaaaahhhkkkk…” Cintia mengerang merasakan memeknya dimasuki batang kontol Basiran. Tangannya menahan tubuh dan dorong Basiran pada dinding sementara siraman air terus jatuh ke tubuhnya.

Basiran mulai bergerak maju mundur. hawa kamar mandi menjadi begitu panas dan beruap. Tubuh Cintia berkilat tertimpa cahaya lampu. Suara dengusan Basiran terdengar jelas di belakang Cintia. Cintia merintih. Kepalanya menggeleng ketika merasakan tubuhnya kembali berontak. Makin lama makin kuat sampai akhirnya meledak.
“Ooohhhkkkkk, hhhgghhhhkkk…” Cintia mengejang kedua kalinya ketika tangan Basiran memilin kedua putingnya.
Orgasme masih datang beberapa kali pada Cintia, sebelum akhirnya Basiran memeluk erat tubuh 

Cintia sambil menghentak keras. Hembusan nafas berbau rokok tercium dari belakang Cintia. Tertatih Cintia didorong keluar kamar mandi. Di luar udara dingin AC langsung mengigit. Tubuh Cintia mengigil, tapi hanya sekejap ia merasakannya, karena Mahmud dan Tasirin sudah menarik dan mendorong tubuh Cintia ke atas ranjang. 

Basiran tersenyum melihat dua rekannya berebut menikmati tubuh ibu rumah tangga yang masih muda itu. Ia dan rekannya baru pertama kali merasakan tubuh wanita keturunan. Karena selama ini setiap gratifikasi seks selalu dengan wanita pribumi.

Oleh karena itu ia dan rekannya bertekad akan memanfaatkan setiap jengkal tubuh Cintia maksimal dan habis-habisan. Cintia menjerit-jerit ketika orgasme datang lagi ketika Mahmud menggarap tubuhnya dari belakang. Tapi jeritan itu langsung berubah menjadi gumaman ketika kontol Tasirin kembali masuk mulut Cintia. Beberapa menit kemudian Mahmud mencapai puncaknya. Tubuh Cintia gemetar tak bergerak di atas ranjang. Tasirin membalik tubuh Cintia, membuka kakinya dan memasukan kontolnya. Mulut Cintia terbuka tapi tenaganya sudah habis untuk mengeluarkan erangan. Ia menggeliat ketika Tasirin mulai menyetubuhinya. Tangannya menggapai-gapai. Matanya melihat Mahmud dan Basiran duduk menikmati pertunjukan di atas ranjang itu. Semburan hangat terasa kembali. Cintia memejamkan matanya. Tenaganya benar-benar habis.
“Prima… maaf..”.

Cintia membuka matanya. Tubuhnya terasa sakit ketika ia berusaha melihat jam. Pukul 9 malam. Keadaan kamar itu remang-remang. Hanya dirinya yang terbaring di ranjang. Suara air mengalir terdengar dari kamar mandi. Cintia menarik selimut menutupi tubuhnya ketika seseorang keluar dari kamar mandi. Basiran dalam keadaan telanjang bulat melangkah mendekat. Ia tersenyum.
“Malam ini cuman kita berdua Bu. Anggap aja hoenymoon kedua Bu Cintia yah.”

Ia naik ke atas ranjang, menarik selimut dari tubuh Cintia dan kembali menindih tubuhnya. Cintia melayani Basiran semalaman. Cintia teringat pada malam pertamanya bersama Prima. Prima hanya butuh waktu istirahat sebentar sebelum menyetubuhinya lagi. Demikian juga Basiran. Sayup-sayup Cintia mendengar adzan subuh ketika Basiran akhirnya terpuaskan birahinya dan jatuh tertidur. Dengan sisa tenaganya Cintia masuk ke kamar mandi. Ia menuangkan seluruh sabun mandi yang ada untuk membasuh tubuhnya yang terasa begitu kotor.

Ketika Mahmud dan Tasirin datang lagi pada pukul sembilan pagi, mereka melihat Cintia sedang menaiki tubuh Basiran yang sedang berbaring sambil merokok menikmati goyang tubuh Cintia. Kedua orang itu langsung bergabung sebelum akhirnya mereka merasa cukup dan kehabisan tenaga. Mahmud memberikan sebuah amplop coklat besar pada Cintia. Cintia tidak merasakan sakit seluruh tubuhnya ketika bergegas keluar hotel dan menuju rumah tahanan dengan taksi.

14 Februari 2015

Tubuh gadis itu mengejang lagi. Sempoyongan berusaha tetap tegak di atas tubuh Ko Han yang sedang berbaring menikmati jilatan lidah Cintia pada puting susunya. Cintia melihat gadis itu. Bibirnya terlihat memucat. Dia kehabisan tenaga. Cintia medekati gadis itu. Menciumi pipinya kemudian bibirnya. Perlahan ia mendorong tubuh gadis itu turun dari tubuh Ko Han. Cintia kemudian membelakangi Ko Han sambil mengangkat pantatnya. Ko Han langsung bangun dan memasukan kontolnya ke memek Cintia. Memek gadis itu tepat di depan muka Cintia. Lidah Cintia menjilati memek yang hanya ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Gadis itu merintih. memeknya kembali basah. Cintia pun kembali merasakan orgasmenya datang. Gadis itu mengaran semakin keras. tangannya meremas sprei, tubuhnya menggeliat.
“Oohh mbakkk, ooohhh aduuh…” gadis itu merintih. “Mbahkkk mbaaahhhkkkaaa…”
Gadis itu mengejang.
“Tiar kluar lagih mbaaaaaaakkkhhhhh……..”

Cintia berdiri disamping taksi. Tangannya berusaha merapikan bajunya yang sedikit terlihat kusut ketika keluar dari hotel tadi. Pada ponsel di tangannya terlihat pesan BBM dari Ko Han tadi pagi beserta gambar dirinya bersama Ko Han pada waktu itu. Jarinya bergerak menghapus pesan dan foto tadi. Pintu gerbang dari besi itu terbuka. Sesosok laki-laki keluar. Prima berlari mendekati Cintia. Keduanya berpelukan erat. Cintia menangis bahagia merasakan tubuh Prima kembali dalam pelukannya. Ia menciumi wajah Prima. Prima mengusap rambut Cintia, sambil menatapnya dalam.
“Happy Valentine Cin…” Prima mencium kening Cintia.
“Happy 1st anniversary Prim…” Cintia mencium bibir Prima.
“Maafkan aku Prima..”

Bagaimana Dengan Cerita Nya? Menarik Bukan Karena Di Sini Kita Bisa Ikut Merasakan Rasa Nya Melalui Cerita Dewasa Nya Ini.Oleh Karena Ini Jangan Lupa Untuk Di Simak Cerita Hot Lainnya Di Bawah Ini :
Created By Sora Templates